
KRI Pandrong-801 salah satu kapal FPB buatan PT. PAL Indonesia. (Foto: TNI AL)
Jakarta, Kompas - Pengamanan perbatasan dan alur pelayaran internasional menjadi penekanan strategi pertahan- an di perairan RI di kawasan barat.
”Pertama, pengamanan Selat Malaka itu pasti. Kedua, masalah perbatasan,” kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Madya Agus Suhartono seusai upacara serah terima jabatan Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) dari Laksamana Muda (Laksda) Soeparno kepada Laksda Marsetio, Rabu (16/12).
Agus Suhartono menekankan, perbatasan harus dijaga, terutama di wilayah yang sekarang ini sedang bermasalah. Wilayah perairan barat Indonesia berbatasan dengan India, Thailand, Singapura, Brunei, Malaysia, dan Vietnam. Selain itu, juga ada jalur pelayaran internasional yang sangat padat dan membentang dari Selat Malaka sampai Laut China Selatan yang berbatasan langsung dengan Singapura, Malaysia, dan Vietnam.
Menurut KSAL, kekuatan dari Armabar akan ditambah secara bertahap, khususnya kapal-kapal patroli. Kondisi geografis di wilayah barat beda dengan timur. ”Di barat cenderung ke alur-alur sempit dan perairan dangkal sehingga kita butuh banyak kapal patroli,” kata Agus Suhartono.
Harus kreatif
Agus mengakui, keterbatasan anggaran dari pemerintah memang menjadi kendala. Namun, hal itu harus dikelola dengan kreatif agar tetap bisa melaksanakan tugas pokok. ”Anggaran untuk AL sudah naik dari Rp 5 triliun menjadi Rp 7 Triliun,” katanya.
Pangarmabar Laksda Marsetio menyatakan bahwa pengamanan Selat Malaka merupakan salah satu agenda kerja yang menjadi prioritas meskipun sekarang ini sudah ada patroli bersama dengan negara-negara tetangga.(Sumber : Kompas)
Leave a Reply